eko winarto sma 1 jiwan

ILMU;teman dikala sendiri & kawan diwaktu sepi

AKU BIASA BIASA SAJA

anakfeb04Menjelang akhir tahun pelajaran sebagai orang tua hendaknya bijak menyikapi rapor anaknya. Barangkali cerita berikut bisa direnungkan, agar kita bisa menjadi  Bapak dan Ibu yang baik dari anak-anak kita.

Apa yang paling dibanggakan orang tua dari anak-anaknya? Boleh jadi adalah kecerdasan scholastic, seperti matematika, bahasa, menggambar (visual), musik (musical), dan olahraga (kinestetik) .

Tetapi, pernahkah kita membanggakan jika anak kita memiliki kecerdasan moral, kecerdasan intrapersonal, atau kecerdasan interpersonal?

Rasanya jarang, sebab ketiga kecerdasan yang terakhir hampir pasti uncountable, tidak bisa dihitung, dan sayang sekali tidak ada nilainya di sekolah, karena di sekolah hanya memberikan penilaian kuantitatif.

Ada sebuah cerita tentang seorang anak, sebut saja namanya Tika (6,5 tahun), kelas I SD. Ia memiliki banyak sekali teman. Dan ia pun tidak bermasalah harus berganti teman duduk di sekolahnya. Ia juga bergaul dengan siapa saja di lingkungan rumahnya. Ada satu hal yang menarik saat ia bercerita tentang teman-temannya.

“Bu, Ifa pinter sekali lho, Bu…! Pinter Matematika , Bahasa Indonesia, Menggambar.. ..pokoknya pinter sekali….!” katanya santai. Vivi juga pintar sekali menggambar, gambarnya bagus …sekali! Kalau si Yahya bisa menghafal banyaaak…. sekali!”

Ya memang Tika senang sekali membanggakan teman-temannya. Ketika mendengar celoteh anaknya ibunya tersenyum dan bertanya, “Kalau mbak Tika pinter apa?” Ia menjawab dengan cengiran khasnya,”

Hehehe…kalau aku, sih, biasa-biasa saja”. Jawaban itu mungkin akan sangat biasa bagi anda, tetapi ibunya tertegun, karena pada dasarnya Tika memang demikian. Ia biasa-biasa saja untuk ukuran prestasi scholastic.

Tapi coba kita dengarkan apa cerita gurunya, bahwa Tika sering diminta bantuannya untuk membimbing temannya yang sangat lamban mengerjakan tugas sekolah, mendamaikan temannya yang bertengkar.

Bahkan ketika dua orang adiknya, Abi (4,5 tahun) dan Ayu (2,5 tahun) bertengkar. Tika langsung turun tangan. “Sudah..! sudah, Dik! sama saudara tidak boleh bertengkar, Hayo tadi siapa yang mulai?” Adiknya saling tunjuk.”Hayo, jujur … Jujur itu disayang Allah..! Sekarang salaman ya… saling memaafkan”.

Pun ketika suatu hari ia melihat baju-baju bagus di toko, dengarlah komentarnya:

“Wah bajunya bagus-bagus ya Bu? Tika sebenarnya ingin, tapi bajuku di rumah masih bagus-bagus, nanti saja kalau sudah jelek dan Ibu sudah punya rezeki, aku minta dibelikan …”

Ibunya pun tak kuasa menahan air matanya, Subhanallah anak sekecil itu sudah bisa menunda keinginan, sebagai salah satu ciri kecerdasan emosional.

Saya sebenarnya ingin berbagi cerita tentang ini kepada anda, karena betapa banyak dari kita yang mengabaikan kecerdasan-kecerdasan emosional seperti itu. Padahal kita tahu dalam setiap tes penerimaan pegawai, yang lebih banyak diterima adalah orang yang mempunyai kecerdasan emosional walaupun dari sisi kecerdasan scholastic adalah BIASA-BIASA SAJA.

Kadang kita merasa rendah diri manakala anak kita tidak mencapai ranking sepuluh besar di sekolah. Tetapi herannya, kita tidak rendah diri manakala anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang egois, mau menang sendiri, sombong, suka berbohong atau tidak bisa bergaul.

Maka ketika Tika mengatakan “AKU BIASA-BIASA SAJA”, maka saat itu ibunya menjawab “Alhamdulillah, mbak Tika suka menolong teman-teman, tidak sombong, mau bergaul dengan siapa saja. Itu adalah kelebihan mbak Tika , diteruskan dan disyukuri ya..?”

Ya… ibunya ingin mensupport dan memberikan reward yang positif bagi Tika . Karena kita tahu anak-anak kita adalah amanah dan suatu saat amanah itu akan diambil dan ditanyakan bagaimana kita menjaga amanah. Sebagaimana doa kita setiap hari agar anak-anak menjadi penyejuk mata dan hati.

Sudahkah kita mencoba untuk menggali potensi-potensi kecerdasan emosional anak-anak kita? Kalau belum mulailah dari diri kita, saat ini juga.

Tulisan lain yang terkait perbandingan perilaku remaja sekarang dan remaja tempo doeloe

12 Juni, 2009 - Posted by | motivasi | , , , , , , ,

9 Komentar »

  1. As parents. Quite naturally wanted that was best for children. and hopefully the Indonesian parents understood true with what could be developed from children
    ======
    @owedyong, If you were a teacher, what would you do for the children to face the future era….thanks for your comment and your visit to my blog….See you

    Komentar oleh accredited online degree | 15 Juni, 2009

  2. papak eko, nampaknya saya harus belajar banyak dari bapak..saya termasuk orang tua yang emosional dan sedikit memaksakan kehendak ke anak . saya tunggu nasehat-nasehat bapak dalam mengahadapi anak kita.
    ======
    @Ibu bunga, trim’s kunjungannya… semoga bisa berubah setiap saat.. menurut chairil anwar ; perubahan adalah sebuah keniscayaan…

    Komentar oleh bunga | 3 Agustus, 2009

  3. betul pak eko…semua anak-anak kita semuanya memiliki kecerdasan khas masing-masing..itulah karunia Allah.
    ======
    @nizam, persoalannya bagaimana kita sebagai orang tua bisa mempersiapkan mereka berkompetisi di jamannya… salam dari geger

    Komentar oleh nizam | 24 Agustus, 2009

  4. Thanks a lot mr.Eko
    at now i will be more learn n study how to care of our children..
    ======
    @Artok, yaah…, because children are amanah…

    Komentar oleh Artok | 6 Januari, 2010

  5. Terimakasih Pak, sangat inspiratif. Mohon izin share…!!
    ======
    @ibu zaky, terima kasih komentarnya

    Komentar oleh Ibu.a zaky | 14 Juli, 2010

  6. Maju trus blogger indo…..:D
    ====
    @ gawong,makasih kunjungannya

    Komentar oleh Gratisan Internet | 16 Agustus, 2010

  7. Pak Eko, tulisan Bapak sangat mengena bagi saya… thanks pak..
    ======
    @evi,semoga menjadi awal lahirnya generasi masa depan yang kita dambakan….

    Komentar oleh evi | 17 November, 2011

  8. ngena bangt pak!!!, mudhn2 klo aQ dah brkeluaga n punya anak! aQ kan peratiin kcerdasan emosinal anak2 Q nanti!!!!!
    ======
    @ayu,semoga lahir generasi masa depan yang mantap…

    Komentar oleh ayu | 6 Februari, 2012

  9. […] remaja yang punya mental yang kurang tahan banting apabila tidak mau dikatakan sebagai bermental lembek kurang daya juang, memilih jalan yang mudah. Ditambah dengan peran orangtua yang semakin berkurang. […]
    ======
    @okky,mari kita berihtiar menjadi guru bangsa di jaman kebangunan ini..melalui;beri kesempatan remaja inspiratif untuk disosialisasikan lewat media…

    Ping balik oleh REMAJA YANG BERKARAKTER | Dunia Kehidupan Remaja | 21 November, 2014


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: