eko winarto sma 1 jiwan

ILMU;teman dikala sendiri & kawan diwaktu sepi

Guru SMA 1 Geger goBlog mencari obat penyakitnya di Internet

grgoblogPukul 09.00 saya bersama Pak Nardi meluncur ke SMA PGRI Mejayan, untuk kegiatan MGMP Guru PKn Kab, Madiun yang sudah hampir satu bulan tidak bertemu karena persiapan ulangan semester ganjil dan liburan semester. Kami berdua datang terlambat…., setelah kami masuk ruang pertemuan sambil membalas salam disambut spontan ; lhaaaa… guru besar akhirnya datang (berat badan saya memang lebih 90 kg.), seterusnya dimintai keterangan tentang sistematika RPP.

Secara singkat kami jelaskan dengan media blog weleeh..3x bukan pamer, tapi untuk nyingkat waktu sebab persiapan makan sudah tertata di meja yang lain dalam ruang pertemuan, selengkapnya contoh RPP bisa diunduh pada https://ekowinarto.wordpress.com/ atau http://gegermadiun.blogspot.com/ di saat menikmati tayangan blog melalui LCD (pinjaman SMAN 2 yang di ambil Pak Yudi atas permintaan Pak Saluwi).

Ternyata internet menarik bagi guru sampai-sampai ada usulan mengadakan pelatihan pemanfaatan TI pada dua pertemuan berikutnya.

Penyesalan di dalam hati terjadi ketika beberapa rekan guru menyerahkan flashdisk untuk mengcopy RPP ( maaf bapak ibu seperti saya kemukakan didepan bisa diunduh/download sendiri……waah…kesuwen,, mbok dikopekne wae…?) – maksud saya sebagai pretes untuk ngenet – tapi nurani tidak tega, akhirnya Pak Wandi (SMA Pilangkenceng) harus menunda makan siangnya untuk copypaste antar flash di PC sekolah sekaligus mencetak contoh beberapa RPP.

Ibu-bapak ada info yang perlu di ketahui bahwa target pemerintah tahun 2014, 70% Guru Melek Internet, artinya guru diharapkan mampu membawa prinsip teknologi ke proses belajar mengajar contohnya belajar lewat perangkat multimedia. ”Selain itu,guru juga diharapkan berbagi pengalaman mengajar dan menggunakan teknologi lewat website atau blog.Guru juga harus menjadi sumber informasi bagi masyarakat,” kata Giri Suryatmana (Sekdirjen PMPTK) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas).

Terkait tulisan di blog ini tentang PTK , muncul pertanyaan; mengapa guru takut melakukan PTK ?, sepulang MGMP saya lanjutkan mencari informasi di google akhirnya ada postingan blog yang menurutku bisa mengajak rekan-rekan guru kembali ke jalan yang benar …… heee….he….he..…Alhamdulillah….. berikut tutur Pak Wijaya Kusumah ;

wk1Perjuangan yang paling berat itu adalah mengalahkan kemalasan diri ketika mau memulai meneliti. Meneliti di kelasnya sendiri untuk memperbaiki kualitas pembelajarannya. “Kenapa guru Takut melakukan PTK”.Ada beberapa alasan kenapa guru takut melaksanakan penelitian di kelasnya sendiri melalui PTK. Beberapa alasan-alasan itu adalah:

1.Guru kurang memahami profesi guru

Profesi guru adalah profesi yang sangat mulia. Para guru hendaknya menyadari profesi mulia ini. Guru harus dapat memahami peran dan fungsi guru di sekolah. Guru sekarang bukan hanya guru yang mampu mentransfer ilmunya dengan baik, tetapi juga mampu digugu dan ditiru untuk memberikan tauladan yang tidak hanya sebatas ucapan tapi juga tindakan.

Dengan adanya sertifikasi guru, maka profesi guru sekarang ini sudah sejajar dengan profesi lainnya. Sehingga banyak sarjana non kependidikan yang mendaftarkan diri untuk menjadi guru.

Profesi guru adalah profesi yang bukan hanya mulia dimata manusia, tetapi juga di mata Allah Karena itu guru harus dapat mengajar dan mendidik dengan hatinya agar dapat menjadi mulia. Hati yang bersih dan suci akan terpancar dari wajahnya yang selalu ceria, senang, dan selalu menerapkan 5S dalam kesehariannya ( Salam, Sapa, Sopan, Senyum, dan Sabar).

2. Guru malas membaca buku dan malas menulis

Masih banyak guru yang malas membaca. Padahal dari membaca itulah akan terbuka wawasan yang luas dari para guru. Kesibukan-kesibukan mengajar membuat guru merasa kurang sekali waktu untuk membaca. Ini nyata, dan terjadi di sekolah kita. Bukan hanya di sekolah, di rumah pun banyak guru yang malas membaca. Guru harus dapat melawan kebiasaan malas membaca. Ingatlah dengan membaca kita dapat membuka jendela dunia.

Pengalaman mengatakan, siapa yang rajin membaca, maka ia akan kaya akan ilmu, namun bila kita malas membaca, maka kemiskinan ilmu akan terasa. Guru yang rajin membaca, otaknya ibarat mesin pencari google di internet. Bila ada siswa yang bertanya, memori otaknya langsung bekerja mencari dan menjawab pertanyaan para siswanya dengan cepat dan benar.

Sudah bisa dipastikan bila guru malas membaca, maka akan malas pula untuk menulis. Menulis dan membaca seperti kepingan uang logam yang tidak dapat dipisahkan. Guru yang terbiasa membaca, maka ia akan terbiasa menulis. Dari membaca itulah guru mampu membuat kesimpulan dari apa yang dibacanya, kemudian kesimpulan itu ia tuliskan kembali dalam gaya bahasanya sendiri.

Menulis itu ibarat pisau yang harus sering diasah. Guru yang rajin menulis, maka ia mempunyai kekuatan tulisan yang sangat tajam, layaknya sebilah pisau. Tulisannya sangat menyentuh hati, dan bermakna. Runut serta mudah dicerna bagi siapa saja yang membacanya.

3. Guru kurang sensitif terhadap waktu dan terjebak dalam rutinitas kerja

Bagi guru yang kurang memanfaatkan waktunya dengan baik, maka tidak akan banyak prestasi yang ia raih dalam hidupnya. Dia akan terbunuh oleh waktu yang ia sia-siakan. Karena itu guru harus sensitif terhadap waktu. Terjaga dari sesuatu yang kurang bermanfaat.

Saat kita memuliakan waktu, maka waktu akan menjadikan kita orang mulia. Karena itu, kualitas seorang guru terlihat dari cara ia memperlakukan waktu dengan baik. Guru yang sukses dalam hidupnya adalah yang pandai memanage waktu dengan baik. Waktunya benar-benar sangat berharga dan berkualitas. Setiap waktunya terprogram dengan baik.

Guru harus pandai mengatur rutinitas kerjanya.

Jangan sampai guru terjebak sendiri dengan rutinitasnya yang justru tidak menghantarkan dia menjadi guru yang dapat diteladani anak didiknya. Guru harus pandai mensiasati pembagian waktu kerjanya. Buatlah jadwal yang terencana. Buang kebiasan-kebiasaan yang membawa guru untuk tidak terjebak di dalam rutinitas kerja, misalnya: membuat diari atau catatan harian yang ditulis dalam agenda guru, atau di dalam blog internet, dan lain-lain.

Rutinitas kerja tanpa sadar membuat guru telah terpola menjadi guru yang kurang berkualitas. Hari-harinya diisi hanya untuk mengajar saja. Dia tidak mendidik anak didiknya dengan hati. Waktunya di sekolah hanya sebatas sebagai tugas rutin mengajar yang tidak punya nilai apa-apa. Guru hanya melakukan transfer of knowledge. Tak ada upaya untuk keluar dari rutinitas kerjanya yang sudah membosankan. Bahkan sampai saatnya memasuki pensiun.

4.Guru kurang kreatif dan inovatif serta malas meneliti

Merasa sudah berpengalaman membuat guru menjadi kurang kreatif. Guru malas mencoba sesuatu yang baru dalam proses pembelajarannya. Dia merasa sudah cukup. Tidak ada upaya untuk menciptakan sesuatu yang baru dari pembelajarannya. Misalnya membuat alat peraga atau media pembelajaran. Dari tahun ke tahun gaya mengajarnya itu-itu saja. Rencana Program Pembelajaran (RPP) yang dibuatpun dari tahun ke tahun sama, hanya sekedar copy paste tanggal dan tahun saja. Banyak guru menjadi tidak kreatif.

Guru tidak akan pernah menemukan proses kreativitas bila cara-cara yang digunakan dalam pembelajaran adalah cara-cara lama. Sekarang ini, sulit sekali mencari guru yang kreatif dan inovatif. Kalaupun ada jumlahnya hanya dapat dihitung dengan dua jari. Guru sekarang lebih mengedepankan penghasilan daripada proses pembelajaran yang kreatif.

Setiap tahun pemerintah maupun swasta mengadakan lomba karya tulis ilmiah (LKTI) untuk para guru, dengan harapan guru mau meneliti. Namun, hanya sedikit guru yang memanfaatkan peluang ini dengan baik. Padahal ini sangat baik untuk guru berlatih menulis, dan menyulut guru untuk meneliti. Dari meneliti itulah guru mengetahui kualitas pembelajarannya.

Penelitian diselenggarakan untuk memperbaiki hal-hal yang telah dilakukan agar menjadi lebih baik atau menciptakan sesuatu yang baru. Melalui penelitian diharapkan guru menjadi profesional di bidangnya.

Sebenarnya meneliti itu tidak sulit.

Kesulitan itu sebenarnya berasal dari guru itu sendiri. Guru menganggap meneliti itu bukan tugasnya. Tugas guru hanya mengajar. Meneliti adalah tugas mereka yang ingin naik pangkat. Kalau sudah kepepet barulah guru mau meneliti. Misalnya kalau ingin naik pangkat dari golongan IVA ke IVB. Kalau tidak, maka pangkatnya tidak akan naik. Data di depdiknas membuktikan bahwa guru golongan IVA terlalu banyak, dan guru golongan IVB masih sangat sedikit. Banyak guru yang mengalami kesulitan dalam meneliti dan melaporkan hasil penelitiannya.

5.Guru kurang memahami PTK

Banyak guru yang kurang memahami penelitian tindakan kelas atau PTK. Guru menganggap PTK itu sulit. Padahal PTK itu tidak sesulit apa yang dibayangkan. PTK dilakukan dari keseharian guru mengajar. Tidak ada yang sulit, semua dilakukan dengan mudah sebagaimana keseharian guru melakukan pembelajaran di kelas. Guru hanya perlu merenung sedikit (instrospeksi) dari proses pembelajaran yang telah dilakukannya. Mencatat masalah-masalah yang timbul, dan mencoba mencari solusinya.

Ajaklah teman sejawat agar proses observasi dan refleksinya tidak terlalu subyektif.

PTK adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan jalan merencanakan, melaksanakan, mengamati, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. Dari PTK inilah diharapkan terjadi proses pembelajaran yang kreatif.

Selengkapnya ada di http://wijayalabs.wordpress.com/2009/01/21/alasan-guru-takut-meneliti/

Semoga kita tidak sakit hati mendapat kritikan di atas karena mau atau tidak, suka atau tidak, tahun 2009 ini kita harus berubah agar bisa memaknai sisa hidup ini untuk anak bangsa yang akan datang.

Tulisan lain yang terkait dengan Guru Profesional

4 Februari, 2009 - Posted by | Pembelajaran | , , , , , , , ,

4 Komentar »

  1. http://uangpanas.com/?id=akmalhayat
    ======
    @mas Haryo Prabowo trim’s atas kunjungannya…..

    Komentar oleh akmal | 4 Februari, 2009

  2. bagaimana menurut Bapak menanggapi narkoba dikalangan remaja?

    Komentar oleh Endah | 12 Februari, 2009

  3. Waduh, judul postingannya bikin gregetan. Dari google search nampak, Guru SMA 1 Geger goBlog… Kirain dari orang yang sirik ‘tanda tak mampu’. Apa tidak lebih baik kalau goBlog diganti dengan ngeBlog?
    Salam kenal Pak Guru. Dari blog AN-XOIN,
    http://an-xoin.blogspot.com
    si blogger yang juga alumni SMA 1 Geger, tapi belum bisa membanggakan almamaternya. Dan contoh murid yang tidak patut dijadikan tauladan karena sudah lupa dengan nama guru-gurunya dahulu. Ha.Ha.Haa. Kejujuran memang menyakitkan, tp peace-waelahh…
    Pokoknya maju terus, jaya selalu SMA 1 Geger.
    ======
    @anxoin… mantan anakku trim kunjungan dan masukannya, menyakitkan terkadang menjadi pilihan hidup…bukankah kesuksesan harus diraih dengan suka n duka…?! silahkan mampir lagi….

    Komentar oleh Anxoin | 1 Maret, 2009

  4. kalau saya yang agak bingung dengan ptk ini laporannya sebab saya lihat laporan teman-teman saya bisa lebih dari 200 halaman sedangkan yang saya tahu Ptk itu hanya cukup beberapa halaman saja
    ======
    @pak husrul, benar ptk sebih simpel dari penelitian pada umumnya, semoga kebingungannya segera hilang…kan tanggal muda..?!

    Komentar oleh husrul muttaqin | 4 Mei, 2009


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: